PERUMPAMAAN DARI IBU GURU

“Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami) jika kamu mengerti.”

(Ali ‘Imraan: 118)

 

Ilustrasi

Ibu guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan syari’at Islam. Di tangan kirinya ia memegang kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, ucapkanlah, “Kapur! Jika saya mengangkat penghapus ini, ucapkanlah, ‘Penghapus.”

Murid murid pun mengerti dan mengikuti perintah tersebut. Permainan pun dimulai. Ibu guru mengangkat tangan kanan dan tangan kirinya silih berganti, kian lama kian cepat. Beberapa saat kemudian, sang guru kembali berkata, “Baik, sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, ucapkan, “Penghapus: Jika saya mengangkat penghapus, katakanlah “Kapur.”

Permainan pun diulang kembali. Pada mulanya, murid-murid keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah umat Islam. Awalnya, kalian jelas dapat membedakan yang hak itu hak, yang batil itu batil. Namun kemudian, musuh-musuh umat Islam berupaya melalui berbagai cara untuk menukarkan yang hak itu menjadi batil, dan sebaliknya. Pertama-tama, mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, Namun, karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika. Keluar berduaan, berkasih-kasihan, tidak lagi jadi sesuatu yang pelik. Zina tidak lagi menjadi persoalan. Pakaian seksi menjadi hal yang lumrah. Seks sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan tren. Materialisme kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan, dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?”

“Paham, Bu Guru” jawab anak-anak kompak.

“Baik, permainan kedua,” ibu guru melanjutkan, “Ibu memiliki Al-Qur’an. Ibu akan meletakkannya di tengah karpet. Al-Qur’an itu dijaga” sekelilingnya oleh umat, yang dimisalkan dengan karpet. Sekarang Anak-Anak berdiri di luar karpet. Permainannya adalah bagaimana caranya mengambil Al-Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa menginjak karpet?”

Murid-murid berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil. Akhirnya, sang guru memberikan jalan keluar. Digulungnya karpet dan ia mengambil Al-Qur’an lalu ditukar dengan buku filsafat materialisme.

Ibu guru telah memenuhi syarat dengan tidak memijak karpet. “Murid-Murid, begitulah umat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasa pun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Namun, mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, dibina pondasi yang kuat.

Begitulah umat Islam, jika ingin kuat, bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau pondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, barulah rumah dihancurkan.

Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan, lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan syari’at Islam sedikit demi sedikit. Itulah yang mereka inginkan.”

“Mengapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak. injak, Bu Guru?” tanya anak murid.

“Sebenarnya, dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Namun, sekarang tidak lagi. Begitulah umat Islam, kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Namun, kalau diserang serentak terang-terangan, barulah mereka akan sadar lalu mereka bangkit serentak.”

Bel tanda pulang berdering. Pelajaran pun selesai. Kelas hari itu itu ditutup dengan berdoa sebelum pulang. Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

Sumber: Ibnu Basyar, Menjadi bijak dan bijaksana; jilid III, Depok; Gema Insani, 2016.

Sharing Sosial Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *