MENOLONG ORANG LAIN ADALAH MENOLONG DIRI SENDIRI

“Barangsiapa melapangkan seorang Mukmin dari salah satu kesusahan dunia maka Allah SWT akan melapangkannya dari salah satu kesusahan pada hari Kiamat. Dan, barangsiapa meringankan penderitan orang lain maka Allah SWT akan meringankan penderitaannya di dunia dan akhirat. Dan, barangsiapa menutupi (cacat) seorang Muslim maka Allah SWT akan menutupi (cacatnya) di dunia dan akhirat. Dan, Allah SWT akan selalu memberi pertolongan | kepada seseorang selama orang tersebut suka membantu kawannya.”

(HR al-Bukhari dan Muslim)

 

Ilustrasi

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah yang diparkir di depan kuburan umum. Pria itu berjalan menuju pos penjaga kuburan. Setelah memberi salam, pria yang ternyata adalah sopir itu berkata, “Pak, maukah Anda menemui perempuan yang ada di mobil itu? Tolonglah Pak karena para dokter mengatakan sebentar lagi ia akan meninggal!”

Penjaga kuburan itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dan ia segera berjalan di belakang sopir itu. Seorang perempuan lemah dan berwajah sedih membuka pintu mobilnya dan berusaha tersenyum kepada penjaga kuburan itu sambil berkata, “Saya Nyonya Steven yang selama ini mengirim uang setiap dua minggu sekali kepada Anda. Saya mengirim uang itu agar Anda dapat membeli seikat bunga dan menaruhnya di atas makam anak saya. Saya datang untuk berterima kasih atas kesediaan dan kebaikan hati Anda. Saya ingin memanfaatkan sisa hidup saya untuk berterima kasih kepada orang. orang yang telah menolong saya.”

BACA JUGA: Perumpamaan dari Ibu Guru

“Oh, jadi Nyonya yang selalu mengirim uang itu? Nyonya, sebelumnya saya minta maaf kepada Anda. Memang uang yang Nyonya kirimkan itu selalu saya belikan bunga, tetapi saya tidak pernah menaruh bunga itu di pusara anak Anda.” jawab pria itu.

“Apa, maaf?” tanya perempuan itu dengan gusar.

“Ya, Nyonya. Saya tidak menaruh bunga itu di sana karena menurut saya, orang mati tidak akan pernah melihat keindahan seikat bunga. Karena itu, setiap bunga yang saya beli, saya berikan kepada mereka yang ada di rumah sakit, orang miskin yang saya jumpai atau mereka yang sedang bersedih. Orang-orang yang demikian masih hidup sehingga mereka dapat menikmati keindahan dan keharuman bunga-bunga itu, Nyonya.” jawab pria itu. Perempuan itu terdiam lalu ia mengisyaratkan agar sopirnya segera membawanya pergi.

Tiga bulan kemudian, seorang perempuan cantik turun dari mobilnya dan berjalan dengan anggun ke arah pos penjaga kuburan. “Selamat pagi, apakah Anda masih ingat saya? Saya Nyonya Steven, saya datang untuk berterima kasih atas nasihat yang Anda berikan beberapa bulan yang lalu. Anda benar bahwa memerhatikan dan ‘membahagiakan’ mereka yang masih hidup jauh lebih berguna daripada ‘meratapi’ mereka yang sudah meninggal.

Ketika saya secara langsung mengantarkan bunga-bunga itu ke rumah sakit atau panti jompo, bunga-bunga itu tidak hanya membuat mereka bahagia, tetapi saya juga turut bahagia. Sampai Saat ini, para dokter tidak tahu mengapa saya bisa sembuh, tetapi saya benar-benar yakin bahwa sukacita dan pengharapan adalah obat yang memulihkan saya.”

Jangan pernah mengasihani diri sendiri karena mengasihani diri sendiri akan membuat kita terperangkap di kubangan kesedihan. Ada prinsip yang mungkin kita tahu, tetapi sering kita lupakan, yaitu Dengan menolong orang lain sesungguhnya kita sedang menolong diri kita sendiri.

Sumber: Ibnu Basyar, Menjadi bijak dan bijaksana; jilid III, Depok; Gema Insani, 2016.

Sharing Sosial Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *