BACAAN AL QUR’AN UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL

Tanya:

Bagaimana hukum hadiah bacaan bagi orang yang meninggal

 

Jawab:

Dalam masalah ini ada beberapa pendapat ulama ahli Figh :

Ulama telah Ijma’ (kesepakatan) bahwa orang yang telah maninggal dunia mendapat manfaat dari doa dan permohonan ampunan (istighfar) dari orang yang masih hidup, seperti doa:

“Ya Allah ampunilah dia, ya Allah kasihilah dia”.

Sedekah, menunaikan kewajiban-kewajiban yang bersifat badani (fisik) dan maly (harta) yang bisa diwakilkan seperti ibadah haji, berdasarkan firman Allah Swt:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa:”Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami” (Os. Al-Hasyr (59J: 10). Dan firman Allah:

“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. (Os. Muhammad (47): 19).

Doa Rasulullah Saw untuk Abu Salamah ketika ia meninggal dunia dan doa beliau untuk mayat yang beliau shalatkan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ‘Auf bin Malik dan setiap mayat yang dishalatkan.

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, ibu saya telah meninggal, jika saya bersedekah, apakah sedekah itu bermanfaat baginya?” Rasulullah Saw menjawab, “Ya”.

Seorang perempuan datang menghadap Rasulullah Saw seraya berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan ibadah haji, saya dapati ayah saya telah lanjut usia, ia tidak mampu duduk tetap diatas hewan tunggangan, bolehkah says melaksanakan ibadah haji untuknya?” Rasulullah Saw menjawab, “Jika ayahmu memiliki hutang, apakah menurutmu engkau dapat membayarkannya?” Perempuan itu menjawab, “Ya” rasulullah Saw berkata, “Hutang Allah lebih berhak untuk ditunaikan”.

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Ibu saya telah meninggal dunia, ia memiliki hutang puasa satu bulan.

Apakah saya melaksanakan puasa untuknya?” Rasulullah menjawah, “Ya”

Imam Ibnu Gudamah berkata, “Hadits-hadits ini adalah hadits-hadits shahih. Dari dalarnnya terkandung dalil bahwa Orang yang telah meninggal dunia mendapatkan manfaat dari semua ibadah yang dilakukan orang yang masih hidup, karena puasa, doa dan permohonan ampunan (istighfar) adalah Ibadah-badah badani (fisik). Allah Swt menyampaikan manfaatnya kepada orang yang telah meninggal dunia, demikian juga dengan ibadah-badah yang lan. Para ulama berbeda pendapat tentang sampainya pahala badah yang bersifat badani (fisik) murni seperti shalat, bacaan al-Our’an dan lainya, apakah sampa: kepada orang tam. Ada dua pendapat. Menurut pendapat mazhab Hanafi, Hanbal, generasi terakhir mazhab Syafii dan Maliki menyatakan bahwa pahala bacaan al-Our an sampat kepada mayat yka dibacakan di hadapannya, atau dibacakan doa setelah membacanya, meskipun telah dikebumikan, karena rahmat dan berkah turun di ternpat memnbaca at-Our’an tersebut dan doa setelah membaca al-Our’an itu diharapkan magbul atau diperkenankan Allah Swt.

Sedangkan menurut pendapat generasi awal mazhab Maliki dan menurut pendapat yang masyhur menurut generasi awal mazhab Syafi’i menyatakan: balasan pahala ibadah mahdhah (murni) tidak sampai kepada orang lain.

Menurut mazhab Hanafi: menurut pendapat pilihan, tidak makruh mendudukkan para pembaca al-Ouran untuk membacakan al-Quran di kubur. Mereka berpendapat tentang menghajikan orang lain, orang boleh memberikan balasan bahala amalnya kepada orang lain, maka shalat adalah amalnya, atau puasa, atau sedekah atau amal lainnya. Dan itu tidak mengurangi balasan amalnya walau sedikit pun.

Menurut mazhab Hanbali: boleh membaca al-Quran di kubur, berdasarkan hadits: “Siapa yang masuk ke pekuburan, lalu ia membaca surat Yasin, maka azab mereka hari itu diringankan dan ia mendapatkan balasan pahala sejumlah kebaikan yang ada di dalamnya” Dan hadits:”Siapa yang ziarah kubur orang tuanya, lalu ia membaca Yasin di kubur orang tuanya, maka ia diampuni”

Menurut mazhab Maliki: makruh hukumnya membaca al-Qur’an untuk mayat dan diatas kubur, karena bukan amalan kalangan Salaf. Akan tetapi generasi terakhir mazhab Maliki menyatakan: boleh membaca al-Our’an dan zikir, kemudian balasan pahalanya dihadiahkan kepada mayat. Maka mayat akan mendapatkan balasan pahalanya insya Allah.

Generasi awal mazhab Syafi’i berpendapat: menurut pendapat yang masyhur bahwa mayat tidak mendapatkan pahala selain dari balasan amalnya sendiri seperti shalat gadha’yang dilaksanakan untuknya atau ibadah lainnya dan bacaan at Our’an. Sedangkan ulama mazhab Syafii generasi terakhir menyatakan: pahala bacaan al-Our’an sampai kepada mayat seperti bacaan al-Fatihah dan lainnya. Demikian yang dilakukan banyak kaum muslimin. Apa yang dianggap kaum muslimin baik, maka itu baik di sisi Allah. Jika menurut hadits shahih bahwa bacaan al-Fatihah itu mendatangkan manfaat bagi orang hidup yang tersengat binatang berbisa dan Rasulullah Saw mengakuinya dengan sabdanya, “Darimana engkau tahu bahwa al-Fatihah itu adalah ruayah?” Maka tentulah bacaan al-Fatihah itu lebih mendatangkan manfaat bagi orang yang telah meninggal dunia.

Dengan demikian maka generasi belakangan mazhab Syafi’i sama seperti tiga mazhab di atas: bahwa pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayat. Imam as-Subki berkata,” Menurut dalil yang terkandung dalam Khabar berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Our’an dibaca dengan niat agar mendatangkan manfaat bagi mayat dan meringankan azabnya, maka itu mendatangkan manfaat baginya, karena menurut hadits shahih bahwa jika surat al-Fatihah itu dibacakan kepada orang yang tersengat binatang berbisa, maka itu bermanfaat baginya dan Rasulullah Saw mengakuinya dengan sabdanya, “Darimana engkau tahu bahwa surat al-Fatihah itu rugyah?” Jika surat alFatihah bermanfaat bagi orang yang masih hidup -jika memang diniatkan untuk itu, maka tentulah lebih bermanfaat bagi mayat”. Al-Qadhi Husein memperbolehkan memberikan upah kepada orang yang membacakan al-Our’an untuk mayat. Ibnu ash-Shalah berkata, ia mesti mengucapkan, “Ya Allah, sampaikanlah balasan pahala yang kami baca kepada si fulan” Ia jadikan sebagai doa. Tidak ada perbedaan dalam masalah ini apakah dekat atau jauh, mesti yakin bahwa bacaan tersebut mendatangkan manfaat. Karena jika doa bermanfaat bukan hanya bagi orang yang berdoa, maka berarti itu juga berlaku pada sesuatu yang lebih utama daripada doa (yaitu bacaan al-Our’an). Ini tidak hanya berlaku pada bacaan al-Our’an, akan tetapi berlaku pada semua amal. Wallahu A’lam.

Sumber: Ustadz Abdul Somad, Lc, M.A, Tanya Jawab seputar Tauhid, Akhlak, Sholat, Puasa, Zakat, Qurban, Haji/Umroh & Fatwa Milenial Lainnya, Jakarta; Sinar Bulan, 2019, Hal. 45

Sharing Sosial Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *